“Perempuan tidak dilahirkan untuk memimpin.”
Kalimat ini, yang masih terdengar di banyak ruang sosial kita hari ini, adalah cerminan dari keyakinan lama yang seharusnya telah usang. Namun dalam kenyataannya, gagasan seperti ini masih menahan langkah banyak perempuan untuk tampil, mengambil peran, dan membuktikan kapasitas mereka.
Di Timor-Leste, sejarah perempuan bukan hanya sejarah domestik. Mereka ada di garis depan perjuangan, menjaga keluarga ketika negara belum terbentuk, hingga memimpin komunitas dalam senyap. Namun, kontribusi besar itu sering tidak tercatat atau dipandang sebelah mata dan mayoritas sejarah pembebasan tanah air yang dilukis hanya dari potret kepemimpinan laki-laki, dan yang lebih menonjol adalah satu atau dua pemimpin laki-laki dari tingkat dan kalangan tertentu.
Buku ini mencoba mengangkat sisi lain dari kenyataan itu melalui lensa etos kerja dan kepemimpinan perempuan. Saya percaya bahwa untuk memahami kemajuan suatu bangsa, kita perlu mendengar dan melihat peran perempuan dalam membangunnya. Penelitian yang menjadi dasar buku ini dilakukan secara langsung melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap berbagai perempuan di berbagai wilayah di Timor-Leste.
Buku ini bukan sekadar laporan akademik. Ia adalah cermin dan suara. Cermin yang memantulkan bagaimana perempuan bekerja, bertahan, dan memimpin; serta suara yang ingin didengar lebih keras oleh generasi hari ini dan masa depan.